Kisah Perjalanan Hidup Presiden Joko Widodo

KISAH PERJALANAN HIDUP PRESIDEN JOKO WIDODO
Ir. H. Joko Widodo yang lahir di Surakarta, 21 Juni 1961 lebih dikenal dengan nama julukan Jokowi adalah pengusaha mebel dan Beliau merupakan Walikota Surakarta (Solo) selama dua kali masa bakti 2005-2015. Dalam masa jabatannya, ia diwakili F.X. Hadi Rudyatmo sebagai wakil walikota. Ketika itu, dia dicalonkan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan. Tahun 2012 ini, Beliau bersama dengan Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. (Ahok) menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta dan selanjutnya menjadi Presiden Indonesia bersama wakilnya Jusuf Kalla.
BIODATA JOKOWI - JOKO WIDODO : 
Nama Populer : Jokowi
Nama Lengkap : Ir. Joko Widodo
Lahir : Surakarta, 21 Juni 1961
Partai politik : PDI Perjuangan
Istri : Ny. Hj. Iriana Joko Widodo
Anak: Gibran Rakabumi Raka, Kahiyang Ayu, Kaesang Pangerap
Agama : Islam -
Hobby : Penikmat musik rock
Riwayat Pendidikan : - SDN 111 Tirtoyoso Solo, SMPN 1 Solo, SMAN 6 Solo - Almamater : Fakultas Kehutanan UGM Yogyakarta lulusan 1985
Pekerjaan : Pengusaha, Eksportir Mebel, Walikota Solo, Gubernur DKI Jakarta dan Presiden Indonesia ke-7
Jokowi kecil sempat merasakan pahitnya kehidupan saat rumahnya tergusur. Rumah petak sekaligus tempat usaha kayu ayahnya di daerah Cinderejo Lor, digusur dan dijadikan pusat jasa travel. Sang bunda menuturkan bahwa Jokowi kecil adalah sosok pendiam, namun pandai bergaul. Jokowi sebagai orang yang selalu mengalah untuk menghindari pertengkaran. Sikap tersebut diwarisi dari kedua orangtuanya yang selalu mengajarkan makna ikhlas dan bertanggung jawab.
Jokowi selalu berjalan kaki menuju sekolahnya, disaat temanya bersepeda ontel. Kala itu sekolah tidak terlalu jauh dari rumah dan cukup berjalan kaki. Bakti kepada orangtua ditunjukkan lewat sikap juga sejumlah prestasi. Saat menjadi Walikota Solo hingga menjadi Gubernur DKI Jakarta, orang tidak pernah menyangka perjalanan hidup Joko kecil anak tukang kayu itu kini menjadi orang nomor satu di Indonesia.
Setelah lulus SMA kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada lulus tahun 1985, dirinya merantau ke Aceh dan bekerja di salah satu BUMN. Ia kembali ke Solo dan bekerja di Perusahaan yang bergerak di bidang perkayuan, CV. Roda Jati. Tahun 1998 dirinya memulai berbisnis sendiri bermodal dari pengalaman yang dimiliki. Dengan kerja keras, ketekunan dan keuletan, akhirnya Jokowi berhasil mengembangkan bisnisnya dan menjadi seorang eksportir mebel.
Pada tahun 2005 Jokowi memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai Walikota Solo bersama partai politik PDI Perjuangan. Banyak yang meragukan kemampuan pria yang berprofesi sebagai pedagang mebel dan taman ini bahkan hingga saat terpilih menjadi Walikota Solo. Selama kepemimpinannya, Solo banyak mengalami kemajuan oleh gebrakan progresif dilakukannya. Ia banyak mengambil contoh pengembangan kota-kota di Eropa yang sering ia kunjungi dalam rangka perjalanan bisnisnya. 
Di bawah kepemimpinannya, Solo mengalami perubahan yang pesat. Pada tahun 2007 Surakarta juga telah menjadi tuan rumah Festival Musik Dunia (FMD) yang diadakan di kompleks Benteng Vastenburg yang terancam digusur untuk dijadikan pusat bisnis dan perbelanjaan. Langkahnya berlanjut dengan keberhasilan Surakarta menjadi tuan rumah Konferensi Organisasi Kota-kota Warisan Dunia pada bulan Oktober 2008. FMD pada tahun 2008 diselenggarakan di komplek Istana Mangkunegaran. Oleh Majalah Tempo, Joko Widodo terpilih menjadi salah satu dari "10 Tokoh 2008"

Kisah Sukses Mantan Petugas Keamanan "FAUZI SALEH"

KISAH SUKSES MANTAN PETUGAS KEAMANAN "FAUZI SALEH"
Fauzi Saleh, contoh seorang pengusaha sukses sekaligus dermawan. Ini berkat kompak dengan karyawannya. Derai tawa dan langgam bicaranya khas betawi. Itulah gaya H. Fauzi Saleh dalam meladeni tamunya.Pengusaha perumahan mewah Pesona Depok dan Pesona Khayangan yang hanya lulusan SMP tersebut memang lahir dan dibesarkan di kawasan Tanah Abang, Jakarta. Setamat dari SMP pada tahun 1966, beliau telah merasakan kerasnya kehidupan di ibukota.
Saat itu Fauzi terpaksa bekerja sebagai pencuci mobil di sebuah bengkel dengan gaji Rp 700 per minggu. Bahkan delapan tahun silam, dia masih dikenal sebagai penjaga gudang di sebuah perusahaan. Tapi, kehidupan ibarat roda yang berputar.Sekarang posisi ayah 6 anak yang berusia 45 tahun ini sedang berada diatas. Pada hari ulang tahunnya itu, pria bertubuh kecil ini memberikan 50 unit mobil kepada 50 dari sekitar 100 karyawan tetapnya. Selain itu para karyawan tetap dan sekitar 2.000 buruh mendapat bonus sebulan gaji. Total Dalam setahun, karyawan dan buruhnya mendapat 22 kali gaji sebagai tambahan, 3 bulan gaji saat Idul Fitri, 2 bulan gaji saat bulan Ramadhan dan Hari Raya Haji, dan 1 bulan gaji saat 17 Agustus, tahun baru dan hari ulang tahun Fauzi. Selain itu, setiap karyawan dan buruh mendapat Rp 5.000 saat selesai shalat Jumat dari masjid miliknya di kompleks perumahan Pesona Depok.
Sikap dermawan ini tampaknya tak lepas dari pandangan Fauzi, yang menilai orang-orang yang bekerja padanya sebagai kekasih. “Karena mereka bekerjalah saya mendapat rezeki.”, katanya. Manajemen kasih sayang yang diterapkan Fauzi ternyata ampuh untuk memajukan perusahaan. Seluruh karyawan bekerja bahu-membahu. “Mereka seperti bekerja di perusahaan sendiri.” Katanya.
Prinsip manajemen “Bismillah” itu telah dilakukan ketika mulai berusaha pada tahun 1989 silam, yaitu setelah dia berhenti bekerja sebagai petugas keamanan. Berbekal uang simpanan dari hasil ngobyek sebagai tukang taman,sebesar 30 juta, beliau kemudian membeli tanah 6 x 15 meter sekaligus membangun rumah di jalan jatipadang, jakarta selatan.
Untuk menyiapkan rumah itu secara utuh diperlukan tambahan dana sebesar 10 juta. Meski demikian, Fauzi tidak berputus asa. Setiap malam jumat, Fauzi dan pekerjanya sebanyak 12 orang, selalu melakukan wirid Yasiin, zikir dan memanjatkan doa agar usaha yang sedang mereka rintis bisa berhasil. Mungkin karena usaha itu dimulai dengan sikap pasrah, rumah itupun siap juga. Nasib baik memihak Fauzi. Rumah yang beliau bangun itu laku Rp 51 juta. Uang hasil penjualan itu selanjutnya digunakan untuk membeli tanah, membangun rumah, dan menjual kembali. Begitu seterusnya, hingga pada 1992 usaha Fauzi membesar. Tahun itu, lewat PT. Pedoman Tata Bangun yang beliau dirikan, Fauzi mulai membangun 470 unit rumah mewah Pesona Depok 1 dan dilanjutkan dengan 360 unit rumah pesona Depok 2. Selanjutnya dibangun pula Pesona Khayangan yang juga di Depok. Kini telah dibangun Pesona Khayangan 1 sebanyak 500 unit rumah dan pesona khayangan 2 sebanyak 1100 unit rumah. Sedangkan pesona khayangan 3 dan 4 masih dalam tahap pematangan tanah.
Harga rumah group pesona milik Fauzi tersebut antara 200 juta hingga 600 juta per unit. Yang menarik tradisi pengajian setiap malam jumat yang dilakukannya sejak awal, tidak ditinggalkan. Sekali dalam sebulan, dia menggelar pengajian akbar yang disebut dengan pesona dzikir yang dihadiri seluruh buruh, keluarga dan kerabat di komplek pesona khayangan pertengahan september lalu, ada sekitar 4.000 orang yang hadir. Setiap orang yang hadir mendapatkan sarung dan 3 stel gamis untuk shalat. Setelah itu, ketika beranjak pulang, setiap orang tanpa kecuali, diberi nasi kotak dan uang Rp 10.000. tidak mengherankan, suasana berlangsung sangat akrab. Mereka saling bersalaman dan berpelukan. Tidak ada perbedaan antara bawahan dan atasan. Menurut Fauzi, beliau sendiri tidak pernah membayangkan akan menjadi seperti ini.“Ini semua dari Alloh. Saya tidak ada apa2nya.” Kata pria yang sehari-hari berpenampilan sederhana ini. Karena menyadari bahwa semua harta itu pemberian Alloh, Fauzi tidak lupa mengembalikannya dalam bentuk infak dan shadaqoh kepada yang membutuhkan. Tercatat, beberapa masjid telah dia bangun dan sejumlah kaum dhuafa dan janda telah disantuninya. Usaha yang dijalankannya tersebut, menurut Fauzi ibarat menanam padi. “Dengan bertanam padi, rumput dan ilalang akan tumbuh. Ini berbeda kalau kita bertanam rumput, padi tidak akan tumbuh”. Kata Fauzi.
Artinya, Fauzi tidak menginginkan hasil usaha untuk dirinya sendiri. “Saya hanya mengambil, sekedarnya, selebihnya digunakan untuk kesejahteraan karyawan dan sosial.” Katanya.Sekitar 60 % keuntungan digunakan untuk kegiatan sosial, sedangkan selebihnya dipakai sebagai modal usaha. Sejak empat tahun lalu, ada Rp 70 milyar yang digunakan untuk kegiatan sosial.“Jadi, keuntungan perusahaan ini adalah nol.” Kata Fauzi. ” Jika setiap bangun pagi , kita bisa mensyukuri dengan tulus apa yang telah kita miliki hari ini, niscaya sepanjang hari kita bisa menikmati hidup ini dengan bahagia”

1001 Kegagalan Dibalik Kesuksesan "SHOICHIRO HONDA"

1001 KEGAGALAN DIBALIK KESUKSESAN SOICHIRO HONDA
Saat merintis bisnisnya Soichiro Honda selalu diliputi kegagalan. Ia sempat jatuh sakit, kehabisan uang, dikeluarkan dari kuliah. Namun ia terus bermimpi dan bermimpi...
Cobalah amati kendaraan yang melintasi jalan raya. Pasti, mata Anda selalu terbentur pada Honda, baik berupa mobil maupun motor. Merk kendaran ini menyesaki padatnya lalu lintas, sehingga layak dijuluki "raja jalanan".
Namun, pernahkah Anda tahu, sang pendiri "kerajaan" Honda - Soichiro Honda diliputi kegagalan. Ia juga tidak menyandang gelar insinyur, lebih-lebih Profesor seperti halnya B.J. Habibie, mantan Presiden RI. Ia bukan siswa yang memiliki otak cemerlang. Di kelas, duduknya tidak pernah di depan, selalu menjauh dari pandangan guru.
"Nilaiku jelek di sekolah. Tapi saya tidak bersedih, karena dunia saya disekitar mesin, motor dan sepeda," tutur tokoh ini, yang meninggal pada usia 84 tahun, setelah dirawat di RS Juntendo, Tokyo, akibat mengindap lever.
Kecintaannya kepada mesin, mungkin 'warisan' dari ayahnya yang membuka bengkel reparasi pertanian, di dusun Kamyo, distrik Shizuko, Jepang Tengah, tempat kelahiran Soichiro Honda. Di bengkel, ayahnya memberi cathut (kakak tua) untuk mencabut paku. Ia juga sering bermain di tempat penggilingan padi melihat mesin diesel yang menjadi motor penggeraknya.
Di situ, lelaki kelahiran 17 November 1906, ini dapat berdiam diri berjam-jam. Di usia 8 tahun, ia mengayuh sepeda sejauh 10 mil, hanya ingin menyaksikan pesawat terbang.
Ternyata, minatnya pada mesin, tidak sia-sia. Ketika usianya 12 tahun, Honda berhasil menciptakan sebuah sepeda pancal dengan model rem kaki. Tapi, benaknya tidak bermimpi menjadi usahawan otomotif. Ia sadar berasal dari keluarga miskin. Apalagi fisiknya lemah, tidak tampan, sehingga membuatnya rendah diri.
Di usia 15 tahun, Honda hijrah ke Jepang, bekerja Hart Shokai Company. Bosnya, Saka Kibara, sangat senang melihat cara kerjanya. Honda teliti dan cekatan dalam soal mesin. Setiap suara yang mencurigakan, setiap oli yang bocor, tidak luput dari perhatiannya. Enam tahun bekerja disitu, menambah wawasannya tentang permesinan. Akhirnya, pada usia 21 tahun, bosnya mengusulkan membuka suatu kantor cabang di Hamamatsu. Tawaran ini tidak ditampiknya.
Di Hamamatsu prestasi kerjanya tetap membaik. Ia selalu menerima reparasi yang ditolak oleh bengkel lain. Kerjanya pun cepat memperbaiki mobil pelanggan sehingga berjalan kembali. Karena itu, jam kerjanya larut malam, dan terkadang sampai subuh. Otak jeniusnya tetap kreatif.
Pada zaman itu, jari-jari mobil terbuat dari kayu, hingga tidak baik meredam goncangan. Ia punya gagasan untuk menggantikan ruji-ruji itu dengan logam. Hasilnya luarbiasa. Ruji-ruji logamnya laku keras, dan diekspor ke seluruh dunia. Di usia 30, Honda menandatangani patennya yang pertama.
Setelah menciptakan ruji, Honda ingin melepaskan diri dari bosnya, membuat usaha bengkel sendiri. Ia mulai berpikir, spesialis apa yang dipilih?Otaknya tertuju kepada pembuatan Ring Pinston, yang dihasilkan oleh bengkelnya sendiri pada tahun 1938. Sayang, karyanya itu ditolak oleh Toyota, karena dianggap tidak memenuhi standar. Ring buatannya tidak lentur, dan tidak laku dijual. Ia ingat reaksi teman-temannya terhadap kegagalan itu. Mereka menyesalkan dirinya keluar dari bengkel.
Kuliah Karena kegagalan itu, Honda jatuh sakit cukup serius. Dua bulan kemudian, kesehatannya pulih kembali. Ia kembali memimpin bengkelnya. Tapi, soal Ring Pinston itu, belum juga ada solusinya. Demi mencari jawaban, ia kuliah lagi untuk menambah pengetahuannya tentang mesin. Siang hari, setelah pulang kuliah - pagi hari, ia langsung ke bengkel, mempraktekan pengetahuan yang baru diperoleh. Setelah dua tahun menjadi mahasiswa, ia akhirnya dikeluarkan karena jarang mengikuti kuliah.
"Saya merasa sekarat, karena ketika lapar tidak diberi makan, melainkan dijejali penjelasan bertele-tele tentang hukum makanan dan pengaruhnya, " ujar Honda, yang gandrung balap mobil. Kepada Rektornya, ia jelaskan maksudnya kuliah bukan mencari ijasah.
Melainkan pengetahuan. Penjelasan ini justru dianggap penghinaan.
Berkat kerja kerasnya, desain Ring Pinston-nya diterima. Pihak Toyota memberikan kontrak, sehingga Honda berniat mendirikan pabrik. Eh malangnya, niatan itu kandas. Jepang, karena siap perang, tidakmemberikan dana. Ia pun tidak kehabisan akal mengumpulkan modal dari sekelompok orang untuk mendirikan pabrik. Lagi-lagi musibahdatang. Setelah perang meletus, pabriknya terbakar dua kali.
Namun, Honda tidak patah semangat. Ia bergegas mengumpulkan karyawannya. Mereka diperintahkan mengambil sisa kaleng bensol yang dibuang oleh kapal Amerika Serikat, digunakan sebagai bahan mendirikan pabrik. Tanpa diduga, gempa bumi meletus menghancurkan pabriknya, sehingga diputuskan menjual pabrik Ring Pinstonnya ke Toyota. Setelah itu, Honda mencoba beberapa usaha lain. Sayang semuanya gagal.
Akhirnya, tahun 1947, setelah perang Jepang kekurangan bensin. Di sini kondisi ekonomi Jepang porak-poranda. Sampai-sampai Honda tidak dapat menjual mobilnya untuk membeli makanan bagi keluarganya. Dalam keadaan terdesak, ia memasang motor kecil pada sepeda. Siapa sangka, "sepeda motor" cikal bakal lahirnya mobil Honda - itu diminati oleh para tetangga.
Mereka berbondong-bondong memesan, sehingga Honda kehabisan stok. Disinilah, Honda kembali mendirikan pabrik motor. Sejak itu, kesuksesan tak pernah lepas dari tangannya. Motor Honda berikut mobinya, menjadi "raja" jalanan dunia, termasuk Indonesia.
Bagi Honda, janganlah melihat keberhasilan dalam menggeluti industri otomotif. Tapi lihatlah kegagalan-kegagalan yang dialaminya. "Orang melihat kesuksesan saya hanya satu persen. Tapi, mereka tidak melihat 99% kegagalan saya", tuturnya. Ia memberikan petuah ketika Anda mengalami kegagalan, yaitu mulailah bermimpi, mimpikanlah mimpi baru.

Kisah Dibalik Kesuksesan "Bill Gates" Pendiri Microsoft

KISAH DIBALIK KESUKSESAN "BILL GATES" PENDIRI MICROSOFT
William Henry Gates III atau lebih terkenal dengan sebutan Bill Gates, lahir di Seattle, Washington pada tanggal 28 Oktober 1955. Ayah Bill, Bill Gates Jr., bekerja di sebuah firma hukum sebagai seorang pengacara dan ibunya, Mary, adalah seorang mantan guru. Sejak kecil Bill mempunyai hobi “hiking”,bahkan hingga kini pun kegiatan ini masih sering dilakukannya bila ia sedang “berpikir”.

Bill kecil mampu dengan mudah melewati masa Sekolah Dasar dengan nilai sangat memuaskan, terutama dalam pelajaran IPA dan Matematika. Mengetahui hal ini, orang tua Bill kemudian menyekolahkannya di sebuah sekolah swasta yang terkenal dengan pembinaan akademik yang baik, bernama Lakeside. Pada saat itu , Lakeside baru saja membeli sebuah komputer, dan dalam waktu seminggu, Bill Gates, Paul Allen dan beberapa siswa lainnya (sebagian besar nantinya menjadi programer pertama Microsoft) sudah menghabiskan semua jam pelajaran komputer untuk satu tahun.

Kemampuan komputer Bill Gates sudah diakui sejak dia masih bersekolah di Lakeside. Tahun 1968, Bill Gates, Paul Allen, dan dua hackers lainnya disewa oleh Computer Center Corp. Dan disinilah mereka mulai mengembangkan kemampuan menuju pembentukan Microsoft, 7 tahun kemudian. Selanjutnya kemampuan Bill Gates semakin terasah. Bekerja sebagai debugger di perusahaan kontraktor pertahanan TRW, dan sebagai penanggungjawab komputerisasi jadwal sekolah, melengkapi pengalaman Bill Gates.

Musim gugur 1973, Bill Gates berangkat menuju Harvard University dan terdaftar sebagai siswa fakultas hukum. Bahkan salah seorang guru Bill mengatakan bahwa Bill adalah programer yang luar biasa jenius, namun juga seorang manusia yang menyebalkan. Desember 1974, saat hendak mengunjungi Bill Gates, Paul Allen membaca artikel majalah Popular Electronics dengan judul “World`s First Microcomputer Kit to Rival Commercial Models”. Dia mengatakan bahwa dia dan Allen telah membuat BASIC yang dapat digunakan pada Altair. Setahun kemudian Bill Gates meninggalkan Harvard dan mendirikan Microsoft.

Jika mendengar nama ini, orang akan langsung ingat dua hal, yakni Microsoft dan kekayaan. Sebab, pada tahun itu komputer masih berukuran sangat besar dan hanya dimanfaatkan untuk hal-hal tertentu saja. Kelahiran Seattle dari pasangan seorang pengacara dan pegawai bank ini memang terkenal cukup ambisius. Ia pun lantas bertemu dengan komunitas penggemar program dan sering menghabiskan waktunya berjam-jam untuk menekuni hobi tersebut. Ayah tiga anak ini kemudian mengembangkan bakatnya saat kuliah di Universitas Harvard. Ia memilih drop out dan berkomitmen kuat untuk mewujudkan ambisinya.

Komitmen itu diwujudkan dengan ketekunan, ketelatenan, dan keuletan, sehingga pelan tapi pasti hobinya membuat program telah menjadi bisnis yang kian menguntungkan. Inilah yang membuat pundi-pundinya terus mengembang. Kini, dengan kekayaannya tersebut, Bill Gates dan istrinya, Melinda, kemudian mendirikan Bill & Melinda Gates Foundation. Mulai dari menyalurkan beasiswa kepada kaum minoritas, berperang melawan penyakit seperti AIDS dan berbagai penyakit lainnya, hingga memerangi kelaparan dan kemiskinan. Sebuah sumbangan terbesar di dunia yang pernah diberikan pada sebuah yayasan sosial.

Sebuah impian, jika disertai dengan keyakinan kuat dan kerja keras, serta dilandasi komitmen perjuangan tanpa henti, akan memberi hasil yang gemilang. Selain itu, kepedulian Bill Gates untuk berbagi juga bisa dijadikan teladan bahwa sukses akan lebih berarti jika kita bisa saling berbagi.

Ketika ia bosan dengan Harvard, Gates melamar pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan komputer di daerah Boston. Gates mendorong Paul Allen untuk mencoba melamar sebagai pembuat program di Honey-well agar keduanya dapat melanjutkan impian mereka untuk mendirikan sebuah perusahaan perangkat lunak.

Pada suatu hari di bulan Desember yang beku, Paul Allen melihat sampul depan majalah Popular Mechanics, terbitan Januari 1975, yaitu gambar komputer mikro rakitan baru yang revolusioner MITS Altair 8080 (komputer kecil ini menjadi cikal bakal PC di kemudian hari). Kemudian Allen menemui Gates dan membujuknya bahwa mereka harus mengembangkan sebuah bahasa untuk mesin kecil sederhana itu. Dari sana pula mereka mempunyai mimpi, tersedianya sebuah komputer di setiap meja tulis dan di setiap rumah tangga. Semangat Allen dan Gates tidak percuma, dan dari sana mereka mendirikan perusahaan Microsoft. Dan hampir setiap orang mengenal Bill Gates sebagai orang terkaya di dunia saat ini.

Kisah Sukses Pendiri KFC Kolonel "Herland Sanders" Setelah Di Tolak 1009 Kali

KISAH SUKSES PENDIRI KFC KOLONEL "HERLAND SANDERS" SETELAH DITOLAK 1009 KALI
Nama Kolonel Sanders pasti tidak terdengar asing lagi di telinga kita. Ya, Ia adalah pendiri Kentucky Fried Chicken (KFC) yang sangat terkenal itu.
Menurutmu, bagaimana ia bisa seterkenal seperti sekarang ini? Apakah ia lahir di keluarga kaya yang memungkinkannya untuk mewujudkan segala cita-citanya dengan mudah? Atau ia adalah orang yang beruntung begitu saja tanpa melakukan apa-apa? Mungkin ada banyak orang yang berpikir seperti itu. Tetapi cerita sesungguhnya sangatlah jauh dari yang kita bayangkan.
Kolonel Harland Sanders lahir pada tanggal 9 September 1890 di Henryville, Indiana, Amerika Serikat. Pada usia 6 tahun, ayahnya meninggal dan Ibunya sudah tidak mampu bekerja lagi sehingga Harland muda harus menjaga adik laki-lakinya yang baru berumur 3 tahun. Dengan kondisi ini ia harus memasak untuk keluarganya. Di masa ini dia sudah mulai menunjukkan kebolehannya. Pada umur 7 tahun ia sudah pandai memasak di beberapa tempat memasak.
Pada usia 10 tahun ia mendapatkan pekerjaan pertamanya di dekat pertanian dengan gaji 2 dolar sebulan. Selepas itu, ia berganti-ganti pekerjaan selama beberapa tahun. Pertama, sebagai tukang parkir pada usia 15 tahun di New Albany, Indiana dan kemudian menjadi tentara yang dikirim ke Kuba. Setelah Ia menjadi pensiunan Angkatan Darat Amerika, Ia hanya hidup dari tunjangan hari tuanya.
Hari demi hari, uang tunjangan itu semakin menipis. Ia lalu berpikir tentang apa yang dapat Ia lakukan untuk orang lain. Lalu jawaban pertama yang Ia dapatkan adalah menawarkan resep ayam goreng yang Ia punya. Temannya menyukai ayam goreng buatannya, dan Ia berpikir bahwa resep ayam goreng itu juga akan disukai oleh banyak orang. Akhirnya, pada usia 65 tahun, Ia mulai menawarkan resep itu ke restoran-restoran.
Akan tetapi, banyak orang yang menertawakan dan menolaknya. Berapa kali Kolonel Sanders ditolak? Ia pernah ditolak 1009 kali! Ia berjuang selama 2 tahun menjelajahi Amerika dengan mobil tuanya. Tidur di mobil, dan bangun di pagi hari dengan kondisi siap untuk menawarkan resepnya pada restoran baru. Dan akhirnya, idenya diterima dengan sukses besar!! Ia telah mendengar 1009 kata "Tidak" sebelum akhirnya Ia mendengar kata "Ya". Pemenang bukanlah orang yang tidak pernah gagal, melainkan mereka tidak pernah menyerah.
Saat ini, KFC telah memiliki lebih dari 18000 outlet yang tersebar di 120 negara dengan penghasilan 15 miliar dollar Amerika setiap tahunnya. KFC telah berkembang menjadi salah satu bisnis waralaba yang paling menguntungkan di seluruh dunia.

Bagaimana Seorang "John Schnatter" Si Pencuci Piring Bisa Mendirikan Perusahaan Pizza

BAGAIMANA SEORANG JOHN SCHNATTER SANG PENCUCI PIRING BISA MENDIRIKAN PERUSAHAAN PIZZA
Pada tahun 1984, John Schnatter membeli peralatan senilai $1600 dari sebuah restoran bekas, mengaturnya di lemari sapu di belakang kedai ayahnya, dan mulai membuat pizza. Usaha inilah yang kemudian jadi cikal bakal Papa John, waralaba pizza global yang menghasilkan 1,4 miliar dolar atau 18 triliun rupiah pada penjualan mereka tahun lalu.
“Sayalah American Dream,” kata Schnatter bulan lalu dikutip dari Entrepreneur.com selama National Small Business Week.
Schnatter mendapatkan ide untuk mendirikan Papa John pada usia 15, saat mencuci piring di sebuah tempat pizza bernama Rocky, di kampung halamannya, Jeffersonville, Indianapolis. Ketika Rocky sibuk, Schnatter akan ditarik dari tempat cuci piring untuk membuat pizza. Dia menaruh perhatian.
Di sini, Schnatter mengembangkan pemahaman yang tajam tentang apa yang diinginkan pelanggan. “Kami membuat pizza tepat di mana kami mencuci piring. Jika kita membuat pizza yang tepat, piring akan kembali kosong. Jika tidak, piring kembali setengah dimakan.”
Selain belajar bagaimana membuat kue yang baik, Schnatter menyadari bahwa sementara waralaba nasional akan mengantarkan pizza ke pintu Anda, akan tetapi toko-toko lokal, milik perorangan, yang membuat produk dengan kualitas yang lebih tinggi, tidak menyediakan layanan pengiriman. Menyadari kesenjangan ini, Schnatter mendapatkan dasar untuk rencana bisnis Papa John: Dia akan membuat pizza berkualitas dan mengirimkannya.
Setelah lulus dari Ball State University, Schnatter pindah rumah. Bar ayahnya, Mick Lounge, sedang berjuang secara finansial. Untuk menjaga bar itu tetap mengapung, Schnatter menjual mobil Camaro tahun 1972 miliknya. Dengan bisnis bar ayahnya pada pijakan yang lebih stabil, ia memutuskan untuk merealisasikan ide toko pizza nya. Dia membeli peralatan restoran bekas dan mulai membuat pizza dari gudang ayahnya. “Kami menjual pizza senilai $ 5 di belakang, dan bir 50 sen di depan.”
Schattner melampaui harapan awalnya sendiri. “Tujuan asli Papa John adalah untuk membuat $ 50 ribu setahun dan memiliki $ 50 ribu di bank, sehingga saya bisa mendapatkan kencan,” katanya.
Ketika ia membuka sebuah lokasi nyata, di luar lemari sapu, di samping Mick Lounge, dia berhasil melakukan sekitar $ 9.000 penjualan selama seminggu, sementara waralaba nasional hanya menghasilkan $ 6.000 dalam seminggu. “Jadi kami melakukannya. Jika kami bisa mengalahkan mereka di salah satu toko, kami bisa mengalahkan mereka di seluruh dunia. Saya memikirkannya pada usia 22 tahun.”
Saat ini, ada 4.500 lokasi waralaba Papa John. 700 di antaranya milik Schattner dan korporasi Papa John sendiri. Sisanya, 3.800 toko pizza, semua beroperasi secara independen.
Schattner tidak melupakan perjuangannya. Beberapa tahun yang lalu, ia kembali untuk menemukan Camaro 1972 yang sama yang harus ia jual untuk membantu menjaga bar ayahnya terbuka. Dia membayar pada pemiliknya seharga $ 250.000 untuk mendapatkannya kembali, dan mengatakan bahwa mobil itu adalah pengingat baginya bahwa kerja keras dan pengorbanan akan lunas dalam jangka panjang.

Amancio Ortega : Anak Buruh Kereta Api Yang Termasuk Orang Sukses Terkaya Ke-3 Di Dunia

AMANCIO ORTEGA : ANAK BURUH KERETA API YANG TERMASUK ORANG SUKSES TERKAYA KE-3 DI DUNIA
Setelah Bill Gates dan Carlos Slim Helu, ada nama seorang Amancio Ortega Gaona sebagai orang terkaya di dunia. Hanya sedikit yang pernah mendengar namanya. Memang, profilnya sangat rahasia. Dia menghindari tampil di muka umum, dan menolak semua permintaan wawancara. Sampai tahun 1999, tidak ada foto Ortega yang pernah diterbitkan di manapun.
Namun, jauh di belahan bumi lainnya, di Paris, Milan, New York, bahkan Indonesia, Ortega berhasil membangun kerajaan fashion yang menjangkau lebih dari 80 negara. Anda pasti mengenal "Zara". Ya, Ortega adalah "pendiri Zara". Dan net worth Ortega diperkirakan mencapai $ 56 miliar.
Akan tetapi, siapa sangka bahwa orang terkaya ketiga di dunia ini berasal dari keluarga pelosok yang miskin? Ortega adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ia lahir di Busdongo de Arbas, sebuah dusun berpopulasi 60 orang di Spanyol, pada tahun 1936, ketika Perang Saudara meletus di Spanyol. Ayahnya bekerja sebagai pekerja kereta api, sementara ibunya bekerja sebagai pembantu rumah tangga.
Ketika Amancio masih kecil, keluarganya pindah ke La Coruña. Di sana, rumahnya tidak lain adalah sebuah rumah petak yang berbatasan dengan rel kereta api yang  sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat tinggal para pekerja rel kereta api.
Amancio mungkin akan bergabung ke dalam industri kereta api juga, jika tidak mengalami satu malam yang mengubah hidupnya, ketika dia berusia 13 tahun. Berjalan pulang dari sekolah, ia dan ibunya berhenti di sebuah toko lokal, di mana sang ibu memohon agar boleh berhutang.
Dia mendengar seseorang berkata, "Señora, saya tidak bisa memberikan ini kepada Anda. Anda harus membayarnya,” kata Covadonga O’Shea, seorang teman lama Ortega yang menjalankan sebuah sekolah fashion di Universitas Navarra di Madrid dan menulis biografi resmi tunggal dari Ortega, The Man From Zara. “Dia merasa begitu terhina, sehingga ia memutuskan ia tidak akan pernah kembali ke sekolah.”
Nyaris remaja, Ortega menemukan pekerjaan sebagai pelayan toko untuk pembuat baju lokal bernama Gala. Pada 16, Ortega menyimpulkan bahwa uang bisa didapatkan dengan cepat ketika dia bisa memberikan pelanggan apa yang mereka inginkan, daripada membeli stok dengan harapan akan menjualnya habis. Maka, dia harus mencari tahu apa yang benar-benar diinginkan orang lain, kemudian membuatnya. Ortega kemudian menemukan lingkungan yang ideal: Galicia. Dengan sedikit kesempatan kerja, ribuan orang melaut. Mereka meninggalkan istri mereka berjuang sendirian di rumah.
“Para wanita akan melakukan apa saja untuk sedikit uang, dan mereka benar-benar pandai menjahit,” kata Blanco, yang ikut menulis sebuah buku biografi tidak resmi berjudul Amancio Ortega: From Zero to Zara.
Ortega mulai mengorganisir ribuan perempuan membentuk korporasi menjahit. Memiliki uang tunai yang cukup, Ortega membuka toko pertamanya di tahun 1975, dua blok dari tempat kerjanya di masa remaja, Gala. Dia menamakannya Zara.
Butuh waktu 10 tahun bagi Ortega untuk mendirikan perusahaan induk, Inditex, dan membuka gerai internasional pertamanya di Portugal, yang mana sumber daya manusianya lebih murah daripada Spanyol.
Kini gerai baru Zara akan terbuka setiap harinya. Toko ke 6.000 Inditex baru saja diluncurkan di London Oxford Street. Sekarang, ada 46 toko Zara di Amerika Serikat, 347 di Cina, dan 1.938 di Spanyol.
Ortega membangun kerajaannya pada dua aturan dasar: Berikan pelanggan apa yang mereka inginkan, dan berikan lebih cepat daripada orang lain. Kedua prinsip yang dipelajarinya dari Gala inilah yang jadi rahasia sukses menakjubkan Inditex.
Di dalam pabrik Inditex tampak seperti dunia sci-fi bercampur dengan bagian ritel kuno. Operasi mereka didasarkan pada dua aturan dasar Ortega. Hal ini membuat mereka mampu terus restocking dengan kecepatan tinggi. Karyawan Inditex bekerja cepat dan efisien: Desainer menciptakan sekitar tiga item sehari, dan pembuat pola memotong satu sampel dari masing-masing. Dan di samping mereka, duduk seorang spesialis komersial penjualan, masing-masing dengan keahlian regional, yang membedah selera dan kebiasaan pelanggan menggunakan laporan penjualan dari manajer toko Zara untuk melihat apa yang memiliki daya jual tinggi dan apa yang pelanggan cari.
Yang mengherankan, Ortega tidak pernah memiliki kantor. Bahkan sekarang, orang ketiga terkaya di dunia itu duduk di meja di ujung ruang kerja terbuka di bagian pakaian wanita. Ortega lebih memilih kain untuk disentuh daripada memo untuk dibaca.
Gaya kerja Ortega dan kemampuannya untuk terhubung dengan setiap karyawan, bahkan karyawan tingkat rendah menaikkan pertanyaan yang menarik: Apakah gaya eksekutifnya akan lebih hirarkis dan konvensional jika ia berasal dari sebuah keluarga istimewa dan dengan gelar MBA , bukan dari kemiskinan dan sedikit pendidikan? “Kemiskinan jelas membentuk siapa dia,” kata Blanco, penulis biografi tidak resmi itu. “Ada rasa lapar akan kesuksesan di sana. Tunjukkan setiap petinju hebat yang tidak berasal dari latar belakang semacam ini. ”
Semi pensiun, Ortega kini tinggal rumah lima lantai menghadap di laut di daerah La Coruña, di jalanan kota yang sibuk, dengan keamanan yang jelas sedikit. Dia makan sarapan setiap pagi (telur dan kentang goreng) dengan kenalannya di klub pengusaha La Coruña, dan beristirahat di akhir pekan ke rumah keluarga besarnya, di mana dia mengguling kambing dan ayam bakar dan mengumpulkan anak-anaknya yang sudah dewasa. Seperti sebuah kebiasaan, Ortega akan mencurahkan waktu seminggu dalam setahun untuk mendaki rute ke Galicia.
Zara bisa saja berubah. Akan tetapi orang yang membangun raksasa ritel itu akan selalu jadi pahlawan bagi yang berasal dari sebuah pedusunan. Pernah, ketika bepergian ke pembukaan gerai Zara di Manhattan, Ortega menyaksikan pembeli tumpah-tumpah di luaran gerai. Dia begitu terharu sampai harus mengurung diri di kamar mandi dan menangis. “Tidak ada yang boleh melihat air mata mengalir di wajah saya,” katanya kepada O’Shea. “Dapatkah kamu membayangkan bagaimana jika orang tua saya melihatnya? Betapa bangganya mereka karena putra mereka telah menguasai Amerika, mulai dari kota kecil yang hilang di penghujung utara Spanyol!”
Nah, sepenggal cerita dari Amancio Ortega telah memberikan motivasi bahwa semua orang, dari kalangan apapun ia berasal, sepahit apa hidupnya , Suatu saat akan berubah dengan semangan , tekat dan keberanian.
Soo ?!   Jangan patah semangat, kita boleh miakin hartaa tapi jangan sampai kita miskin cita-cita .

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More